Pelupa adalah sifat yang sudah melekat dalam diri manusia. Ada banyak hal yang dilupakan oleh manusia, salah satunya adalah bersyukur. Hal termudah yang sering diabaikan. Tapi ada satu hal lagi yang sangat jelas, gamblang dan masih erat kaitannya dengan lupa bersyukur, akan tetapi tidak pernah kita sadari. Apakah itu? Silahkan baca artikel ini hingga selesai, ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya.
Berawal dari Rasa Sakit
Berawal dari rasa sakit, aku menemukan suatu pelajaran baru. Pelajaran yang sangat berharga bagiku, dan mungkin untuk para pembaca sekalian. Silahkan simak dan ambil pelajaran yang berharga di dalamnya. Tak perlu bertanya, apakah kisah ini nyata atau hanya cerita yang dikarang semata? Sebab, yang terpenting adalah pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini.
Sore itu, ketika orang-orang sibuk mencari makanan untuk berbuka puasa, aku justru lesu setelah mendengar penjelasan dari dokter. Bagaimana tidak, aku diberi obat yang (percayalah) semua orang tidak ingin mendapatkannya. Ingin rasanya kubuang obat-obatan ini dan berteriak “Hidup dan matiku ditentukan Tuhan! Bukan benda semacam ini!”. Tapi aku mengurungkan niatku, sebab aku masih ingin sembuh dan hidup normal seperti manusia lainnya. Motivasi terbesarku untuk tetap meminum benda-benda ini adalah karena keluarga dan orang-orang yang kucintai. Aku ingin membahagiakan mereka.
“Manusia memang pelupa” Bisikan suara yang terdengar di telingaku. Aku tak ambil pusing, sebab aku tahu ini hanya perasaanku saja. Karena tidak mungkin ada orang yang berbisik di telingaku dengan kecepatan motor yang saat ini sedang kupacu. Pikiranku teracak tak karuan, semangatku perlahan terus memudar, dan sempat terlintas untuk mengadu seberapa kuat motor yang kupacu dengan truk di depanku. Tapi, lagi-lagi suara itu muncul “Lihatlah di sekelilingmu, bukankah kamu masih bisa melihat indahnya dunia? bukankah kamu masih bisa menghirup oksigen dengan gratis?”
“Apakah kamu lupa bersyukur atas nikmat yang telah kamu dapatkan? Hanya karena satu hal buruk, kamu menganggap semua anugerah ini buruk. Jangan lupa bersyukur!” Suara itu terus bergema di pikiranku. Tak kuat mendengar bisikan itu, akhirnya aku putuskan untuk berhenti di suatu tempat yang sunyi. Danau kawasan industri, dulu aku sering melewati tempat itu. Pastinya, pada saat seperti ini akan cukup sunyi di tempat tersebut.
Merasa Paling Benar
Beberapa puluh menit lagi adzan magrib berkumandang, tapi aku tetap memutuskan untuk ke danau ini. Terlihat hanya ada satu tukang kopi keliling yang sedang mangkal, dan dua karyawan yang sepertinya sedang beristirahat menunggu berbuka puasa. Aku membeli roti dan sebotol air mineral untuk berbuka puasa. Setelah itu aku melipir ke tepi danau, agak jauh dari mereka. Kupandangi luasnya danau ini, airnya terlihat tenang walaupun di sekitarnya banyak suara bising dari pabrik-pabrik. Disini aku pun menyadari satu hal. Memang benar bahwa manusia adalah pelupa, bahkan untuk bersyukur saja ia lupa.

Aku menghela nafas dan merasakan oksigen yang gratis ini, aku mengagumi keindahan yang masih bisa kulihat ini, bukankah suatu anugerah. Setelah mengalami hal ini, aku akan lebih bersyukur lagi. Bahkan aku ingin mengajak orang lain untuk mensyukuri anugerah yang telah dinikmati. Pemandangan yang masih bisa dilihat, oksigen yang masih bisa dirasakan, kaki yang masih bisa berjalan, bukankah semua itu nikmat yang harus disyukuri. Dasar manusia, memang miskin bersyukur. Termasuk aku. “hehehehe” tawaku pada diri sendiri.
Sedang menikmati indahnya danau ini, aku kaget karena sikuku menyenggol sesuatu. Ternyata itu adalah lutut seorang kakek yang sedang duduk di sampingku. Sejak kapan kakek itu ada di sini? Ahh mungkin hanya pengembala sapi yang sedang beristirahat, aku tak mau dibuat pusing olehnya. Kakek tersebut menoleh ke arahku dan tersenyum, aku pun membalas senyumannya. “Hanya karena menyadari satu hal, jangan merasa paling benar. Bukankah manusia itu pelupa?” Kata kakek di sampingku. Aku heran mendengarnya.
Percakapan Tentang Manusia Pelupa
Melihat aku yang kebingungan, kakek itu justru bertanya lagi.
Kakek: “Sedang apa di sini?”
Aku: “Menikmati pemandangan, kek”
Kakek: “Hanya itu? padahal masih banyak tempat lain yang lebih indah, yang bisa kamu nikmati, bukan?”
Aku: “Di sini lebih sunyi, kek. Jadi bisa merenung dan mensyukuri nikmat yang sudah didapatkan dalam hidup ini”
Kakek: “Mensyukuri nikmat apa?”
Aku: “Banyaklah, kek. Contohnya, kita bisa melihat, bisa bernafas, masih bisa berjalan, bukankah itu nikmat yang harus disyukuri?”
Kakek: “Hmmmmm”
Kakek tersebut hanya menggumam dan memilih untuk berhenti berbicara karena adzan magrib mulai berkumandang. Aku segera meminum air yang tadi kubeli, sekaligus memakan roti karena harus meminum obat dari dokter. Ketika aku menawarkan makananku, kakek tersebut menolak dan memilih untuk meminum minumannya sendiri. Aku sempat heran, dari mana minuman itu. Sebab dari tadi aku tidak melihat kakek tersebut membawa minuman.

Manusia memang Pelupa
“Kamu yakin sudah bersyukur?” Tanya kakek itu membuka pembicaraan lagi.
“Kita itu manusia yang pelupa, terutama lupa bersyukur, kek. Sekarang aku sudah sadar dan ingin selalu mensyukuri apa yang sudah aku miliki” Jawabku sok bijak.
“Hmmmm… Sebenarnya kamu itu bersyukur kepada siapa?” Tanya kakek tersebut.
Aku bingung mendengar pertanyaan semacam itu. Bersyukur kepada siapa? Pertanyaan macam apa ini. Sejenak aku terdiam dan memikirkan maksud dari pertanyaan kakek tersebut. Hingga akhirnya aku memantapkan diri untuk menjawabnya.
“Bersyukur pada Allah, kek. Tuhan Sang Pencipta semesta” Jawabku mantap.
“Jika kamu memang benar-benar bersyukur pada Allah, tidak seharusnya saat ini kamu ada di sini” Jawabnya.
Kembali aku dibuat bingung. Tadi pertanyaan aneh, sekarang pernyataan yang tidak aku mengerti maksudnya. Sebenarnya apa mau kakek ini, kemana arah pembicaraan ini? Melihat aku yang memasang wajah kebingungan, kakek tersebut akhirnya berinisiatif untuk menjelaskannya padaku.
“Jika kamu bersyukur kepada Allah, seharusnya saat ini kamu tidak ada di sini, karena sekarang waktunya sholat magrib. Apakah seperti ini caramu bersyukur kepada Allah?” Terang kakek tersebut.
Manusia, Pelupa dari Pelupa
Jawaban kakek tersebut membuat aku terdiam. Benar juga, pikirku. Sedari tadi aku sudah yakin dan merasa paling benar bahwa aku sudah menyadari satu hal, yaitu harus bersyukur. Tapi ternyata, dibalik rasa syukur ini, aku lupa kepada siapa aku bersyukur. Jika aku bersyukur kepada Allah dan berterima kasih atas segala anugerah yang telah diberikanNya, bukankah seharusnya aku selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya? Perintah yang dijadikan sebagai tiang agama, sudah seharusnya aku tegakkan. Tapi nyatanya, aku di sini dan melalaikan sholat magrib. Pada saat isi kepalaku berkecamuk memikirkan hal ini, kakek tersebut kembali berkata.
“Memang banyak orang yang lupa bersyukur. Tapi tak sedikit juga orang yang lupa, kepada siapa mereka bersyukur” Kakek tersebut terus menjelaskan.
“Bukan salah isi kepalamu, tapi ada yang tidak benar dengan hatimu. Keras, sehingga semuanya ikut mengeras. Coba lunakkan hatimu, bersihkan dari hal-hal buruk” Tambah kakek sambil berdiri.
“Maksudnya?” Tanyaku sambil melihat wajah kakek itu.
Kakek tersebut menatap ke arah danau sambil tersenyum, aku pun memalingkan muka ke arah danau itu. Aku ingin melihat apa yang dilihat kakek tersebut. Tidak ada apa-apa, hanya ada air danau yang tenang dan mulai gelap karena mentari yang semakin bersembunyi.
“Pergilah ke tempat di mana seharusnya kamu bersyukur” Katanya lagi.

Jangan Lupa Kepada Siapa Kamu Bersyukur
Ketika aku menoleh ke arah kakek tersebut, ia sudah tidak ada. Aku melihat-lihat sekitar dan memang tidak aku temukan kakek tersebut. Aku pun baru sadar, jika kakek itu adalah pengembala, seharusnya ada sapi-sapi di sekitar danau. Tapi sejauh mata memandang, sedari tadi aku tidak melihat keberadaan sapi atau hewan peliharaan lain.
“Mas! Jangan di situ sendirian, sudah malam” Teriak pedagang kopi yang sedang mangkal.
Aku pun menghampirinya dan menanyakan kakek yang tadi bersamaku. Pedagang tersebut tidak melihat seorang kakek-kakek, dan dari tadi ia melihat hanya ada aku sendirian di situ.
“Mending pulang, saya juga mau pulang. Jangan di sini sendirian, serem” Tambahnya.
Aku mengangguk dan segera menuju tempat di mana seharusnya aku mensyukuri semua anugerah ini.

Saran
Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.
PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…
